Pinjaman Harus Dikembalikan

Bahasa Indonesia mempunyai banyak kata yang berasal dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Cina, Sanskerta, Portugis, dan Inggris.

Dari bahasa Portugis kita mendapat kata seperti sepatu dari asal kata “capato”, gereja dari “igreja”, perlente dari “parlenda”.

 

Bahasa Inggris juga banyak menambah kosakata kita, misalnya manajemen, komputer, internet, regular.

 

Bahasa Belanda memperkaya kosakata Indonesia dengan kata taplak dari asal kata “tafellaken”, got dari “goot”, indekos dari “in de kost”, sirsak dari “zuurzak”.

 

Jenis kata-kata di atas di kenal dalam bahasa Inggris dengan istilah “loanwords” atau “leenwoorden” dalam bahasa Belanda. Dalam bahasa Indonesia disebuit sebagai kata pinjaman atau serapan.

 

Namun, istilah loanwords, leenwoorden atau kata pinjaman rasanya kurang pas. Bagaimana caranya kita mengembalikan kata yang pernah kita pinjam?

 

Tetapi, dalam bahasa Belanda istilah kata pinjaman benar-benar bisa diartikan secara harafiah. Itu artinya, kata pinjaman tadi pada suatu ketika harus dikembalikan.

Bahasa Belanda pernah meminjamkan kepada kita kata-kata seperti “voorloper” dan “slootkant”. Kedua kata itu kita adaptasi menjadi pelopor dan selokan.

Bahasa Inggris pun pernah meminjam kata “baas”, juga bahasa Belanda dari abad pertengahan “snacken”, dan “brandewijn”, yang kemudian diserap menjadi boss, snack, dan brandy.

Bahasa Prancis juga pernah meminjam kata “mannekijn” yang lantas diserap menjadi mannequin.

 

Setelah sekian lama bahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis meminjam kata-kata itu dari bahasa Belanda, maka bahasa Belanda “menagih” kata-kata itu berikut “bunganya”.

Jika membuka kamus Belanda Van Dale (1993), maka kita bisa mendapatkan kata-kata plopper, slokan, boss, snack, brandy, dan mannequin.

Kata-kata itu ada yang tetap maknanya, tetapi ada juga yang berubah. Slokan, boss, dan brandy tidak mengalami perubahan makna.

Sementara plopper, snack, dan mannequin berubah maknanya. Kata pelopor dan voorloper mempunyai makna berjalan terdahulu, pembuka jalan, perintis jalan. Sedangkan plopper maknanya menyempit menjadi perintis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Selain itu kata plopper juga berarti orang Indonesia dengan konotasi negatif.

Kata snacken bermakna menggigit, tetapi setelah diserap bahasa Inggris artinya menjadi kudapan atau makanan ringan. Kata snack ini kemudian diserap kembali ke dalam bahasa Belanda dengan makna yang sama. Begitu juga dengan kata mannekijn, laki-laki kecil. Kata ini diserap bahasa Prancis menjadi mannequin yang berarti boneka untuk memajang pakaian atau peragawan/peragawati. Bahasa Belanda kemudian menyerap kata ini kembali dengan makna yang sama pula.

Dengan demikian bahasa Belanda tidak kehilangan kata-kata yang dipinjamkannya, tetapi bahkan mendapat “bunga” berupa kata-kata itu tadi.

 

Jadi, dengan meminjamkan kata kepada bahasa lain, bahasa Belanda justru mendapat kata-kata baru yang sekaligus menambah kosakatanya.

(Munif Yusuf, Pengajar Program Studi Belanda, Universitas Indonesia)

 

Bagaimana dengan bahasa Indonesia?

Mungkin itu sebabnya, mengapa sekarang lebih banyak digunakan istilah “kata serapan”, bukan lagi “kata pinjaman”.
Karena “pinjaman” harus dikembalikan.

[]

Iklan

tulis komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s