Kontemplasi Paranoia

“Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God”
(Sathya Sai Baba
)

Kita semua punya keinginan.
Besar kecilnya tergantung seberapa kuat kita berkiprah dalam usaha.
Ini mungkin yang disebut motivasi, daya dorong, yang mesti kita miliki.
Namun yang paling penting sepertinya, seberapa besar kita tangguh dan
berupaya keras menerjang badai-badai yang sedang menghadang.
Katanya, kuncinya adalah kekuatan jiwa dan optimalisasi sepenuhnya
terhadap yang kita ingini itu.

Dengan kata lain, siapkah diri ini berkompetisi secara baik dan benar,
atau melawan – jika kita mengidentikan semua pesaing
adalah – yang tidak akur (setuju) dengan kita.
Maka kita harus berpikir jauh tentang hal itu.
Sebabnya, tidak semua orang merasa dirinya dianggap
lawan maupun kawan.
Adakalanya lawan sering menjadi kawan.
Dan juga sebaliknya, kawan menjadi lawan.

Bahkan 15 abad yang lalu, menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib,
telah berkata :

“cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja;
siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan berbalik
menjadi orang yang kau benci.
Bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja;
siapa tahu—pada suatu hari kelak – ia akan menjadi orang
yang kau cintai”.

Ini mungkin nasehat.
Namun tidak setiap orang suka akan nasehat.
Apalagi ketika berada dalam keadaan yang tidak terkendalikan.
Siapapun dapat berada dalam kondisi terguncang – baik itu batin
maupun pikiran – senantiasa memposisikan siapa pun di hadapannya sebagai musuh.

Bahayanya, orang yang terkena penyakit ini – ketika tidak bisa melawan
secara terbuka – ia dapat menggunakan cara lain,
sehingga yang nampak hanyalah akibat yang tidak kita duga-duga.
Atau hanya dampaklah yang terasa pada kita.
Dan siapa pun tidak akan mampu menggambarkan dampaknya secara lahiriah.
Yang muncul hanyalah suasana – intuisi dan keadaan ruang – waktu
yang tidak nyaman, dan hal-hal yang berada di luar daya tangkap kita.

Karena itu, siapa pun yang bertindak seperti itu berarti sedang mengidap paranoid.
Dan kita perlu merenungi diri sendiri, apakah kita termasuk pada kategori paranoid atau tidak.
Bila ya, berarti kita perlu melakukan perbaikan dan penyempurnaan.
En kita harus memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki yang laen.
Getoo katana.

Maap, mo memperbaiki ……….

YOWH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: